ASATUNEWS.CO, Manggarai — Rumah Sakit Apung (RSA) Laksamana Malahayati yang dikirim PDI Perjuangan untuk misi kemanusiaan pascagempa Flores mulai menunaikan tugasnya di lapangan. Tenaga medis kapal rumah sakit itu memberikan pelayanan kesehatan kepada 150 warga di Desa Wudi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (1/9/2026), sebagaimana diunggah akun resmi @PDI_Perjuangan di X.
Pelayanan kesehatan itu digelar di tengah masa pemulihan yang memasuki hari ke-17 setelah gempa melanda Flores. Dalam unggahannya, PDI Perjuangan menyebut kegiatan dilakukan bersama tenaga medis RSA Laksamana Malahayati dengan semangat gotong royong. Pemeriksaan kesehatan menyasar 150 warga Desa Wudi yang berada di wilayah Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores. Detail kegiatan dapat disimak pada unggahan resmi PDI Perjuangan.
RSA Laksamana Malahayati bukan kapal asing bagi warga NTT. Kapal rumah sakit ini dilepas dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, pada 20 Agustus 2026 atas arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Pelepasan saat itu dipimpin Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama jajaran DPD PDI Perjuangan Banten. Dalam misinya, kapal membawa kapten, kru, dan tenaga kesehatan untuk melayani warga terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya pada 18 Agustus lalu.
Misi Kemanusiaan Rumah Sakit Apung
Kehadiran rumah sakit apung menjadi penting bagi daerah kepulauan dan berbukit seperti Flores yang sulit dijangkau layanan kesehatan darat. Kapal yang difungsikan sebagai rumah sakit terapung ini memungkinkan tenaga medis menjangkau warga di pesisir maupun pedalaman, termasuk melakukan evakuasi medis pasien dari lokasi-lokasi terpencil yang akses daratnya terputus akibat gempa. Pola pelayanan seperti inilah yang dijalankan tim medis RSA Laksamana Malahayati ketika turun ke Desa Wudi, Cibal, Manggarai.
PDI Perjuangan menegaskan misi kapal ini bukan sekadar pelayaran biasa. Keberangkatan RSA Laksamana Malahayati ke NTT membawa semangat kemanusiaan, gotong royong, dan keberpihakan kepada rakyat. Arahan pengiriman datang langsung dari Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum, dengan pelibatan struktur partai dari pusat hingga daerah dalam penyiapan kapal, kru, dan tim kesehatan.
Sebelum beroperasi di Manggarai, kapal ini menempuh perjalanan dari perairan Banten menuju kawasan terdampak gempa di NTT. Perjalanan tersebut memakan waktu berhari-hari mengingat jarak antarpulau yang jauh, dan menjadi bagian dari gelombang bantuan yang terus mengalir ke NTT pascagempa, mulai dari logistik, tenaga medis, hingga kapal perang rumah sakit TNI AL yang dikerahkan dalam penanganan darurat.
Nama Laksamana Malahayati sendiri diambil dari sosok laksamana perempuan pertama di dunia yang berasal dari Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Penamaan kapal rumah sakit dengan nama pahlawan nasional tersebut dimaksudkan untuk menghidupkan semangat perjuangan dan pengabdian kepada rakyat, sejalan dengan misi kemanusiaan yang diemban kapal di perairan NTT saat ini.
Layanan Kesehatan di Desa Wudi
Desa Wudi berada di Kecamatan Cibal, salah satu kecamatan di Kabupaten Manggarai yang wilayahnya berbukit dan tersebar di pedalaman Pulau Flores. Pascagempa, sebagian warga di kawasan ini harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, sementara fasilitas kesehatan yang ada di sekitar lokasi bencana ikut terbebani oleh lonjakan pasien dari berbagai desa terdampak.
Baca Juga
Polri: Tersangka Karhutla Naik Jadi 89 Orang
Kehadiran tim medis RSA Laksamana Malahayati di Desa Wudi meringankan beban tersebut. Sebanyak 150 warga mendapat pelayanan kesehatan dalam kegiatan yang digelar Selasa (1/9/2026) itu. Jumlah tersebut menunjukkan antusiasme warga yang membutuhkan pemeriksaan setelah berminggu-minggu berada dalam masa tanggap darurat dan pemulihan awal pascagempa.
Kegiatan layanan kesehatan di Desa Wudi juga menjadi penanda bahwa bantuan yang semula bersifat darurat mulai bertransisi ke pemulihan layanan dasar bagi masyarakat. Rumah sakit apung, dengan mobilitasnya, dinilai efektif menjangkau desa-desa di pesisir dan pedalaman yang sulit dilalui kendaraan darat, terutama di musim yang masih memungkinkan gelombang tinggi di perairan NTT.
Penanganan Gempa Flores yang Terus Berjalan
Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada 18 Agustus 2026 menjadi salah satu bencana besar yang dihadapi Indonesia tahun ini. Guncangan merusak rumah-rumah warga, fasilitas umum, dan infrastruktur di sejumlah kabupaten di Pulau Flores, termasuk Manggarai. Penanganan darurat yang berjalan sejak pekan pertama bencana berfokus pada pengungsian, layanan kesehatan, dan pemulihan infrastruktur dasar.
Dalam situasi seperti ini, keterlibatan banyak pihak menjadi keniscayaan. Pemerintah pusat dan daerah bergerak melalui mekanisme kebencanaan nasional, TNI dan Polri dikerahkan untuk evakuasi dan pendampingan, sementara organisasi masyarakat dan partai politik turut mengirimkan bantuan sesuai kapasitas masing-masing. Pengiriman rumah sakit apung oleh PDI Perjuangan merupakan salah satu bentuk kontribusi di bidang layanan kesehatan yang selama ini menjadi titik rentan dalam bencana di wilayah kepulauan.
Bagi warga di kepulauan, waktu menjadi faktor penentu dalam penanganan medis. Ketika akses darat terputus dan fasilitas kesehatan darurat penuh, kehadiran fasilitas kesehatan bergerak dari laut mampu memangkas waktu tunggu penanganan. Prinsip inilah yang melatarbelakangi pentingnya armada rumah sakit apung dalam doktrin penanganan bencana di negara kepulauan seperti Indonesia.
Komitmen Mendampingi Pemulihan NTT
PDI Perjuangan menyatakan akan terus hadir dan mendampingi masyarakat Nusa Tenggara Timur dalam proses pemulihan pascagempa. Layanan kesehatan di Desa Wudi disebut bukan kegiatan sekali jalan, melainkan bagian dari rangkaian pendampingan yang berkelanjutan, menyusul berbagai bantuan logistik dan tenaga yang telah dikirim sebelumnya ke kawasan terdampak.
Partai berlambang banteng itu juga menyampaikan apresiasi kepada kapten, kru, dan tenaga medis RSA Laksamana Malahayati yang bertugas di tengah keterbatasan pascabencana. Doa dan dukungan disampaikan agar seluruh tim diberi keselamatan dan kelancaran selama menjalankan misi kemanusiaan di perairan NTT hingga masa pemulihan berjalan lebih jauh.
Kehadiran layanan kesehatan dari laut ini diharapkan mampu menutup celah pelayanan bagi warga di desa-desa terpencil yang belum tersentuh fasilitas kesehatan memadai. Dengan terus beroperasinya RSA Laksamana Malahayati, warga terdampak gempa Flores di wilayah seperti Desa Wudi, Cibal, Manggarai, memiliki akses pemeriksaan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kabupaten.
