Lompat ke konten

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Nagekeo NTT, Getaran Terasa hingga Sikka

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Nagekeo NTT, Getaran Terasa hingga Sikka
Foto: @infoBMKG (X)

ASATUNEWS.CO, Nagekeo — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah perairan di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (4/9/2026) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 04.00.11 WIB dengan pusat berada di laut, 48 kilometer timur laut Mbay–Nagekeo, pada kedalaman dangkal 7 kilometer. Getarannya dirasakan masyarakat hingga skala III MMI di Kabupaten Nagekeo dan II MMI di Kabupaten Sikka. Parameter terbaru itu disampaikan BMKG melalui pembaruan (update) di akun resmi @infoBMKG pada platform X (Twitter) (x.com/infoBMKG/status/2095630563009073335).

Berdasarkan keterangan resmi BMKG tersebut, episentrum gempa berada pada koordinat 8,33 lintang selatan dan 121,58 bujur timur. Dengan kedalaman hanya 7 kilometer, gempa ini tergolong dangkal, sehingga guncangannya terasa cukup jelas di permukaan meski magnitudonya tidak besar. Wilayah yang merasakan getaran terdokumentasi pada skala intensitas II hingga III MMI, yakni Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo di Pulau Flores.

Kejadian ini muncul di tengah masa pemulihan masyarakat NTT pascagempa bumi besar magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores dan sekitarnya pada 18 Agustus 2026. Kawasan Flores bagian tengah hingga timur, termasuk Nagekeo dan Manggarai, menjadi wilayah yang paling merasakan dampak guncangan besar tersebut. Hingga awal September, berbagai agenda pemulihan masih berjalan, mulai dari layanan kesehatan hingga distribusi logistik bagi warga terdampak.

Kronologi dan Parameter Gempa

Dalam unggahan pembaruannya, BMKG menuliskan keterangan lengkap dengan format standar informasi gempa, mencakup magnitudo 4,6, waktu kejadian 04-Sep-26 pukul 04.00.11 WIB, lokasi 8,33 LS–121,58 BT, kedalaman 7 kilometer, serta wilayah guncangan II MMI Sikka dan III MMI Nagekeo. Unggahan itu dirilis BMKG sekitar pukul 04.50 WIB dengan penanda #Gempa dan #BMKG sebagai kanal informasi resmi yang biasa diakses masyarakat. Format “(UPDATE)” pada unggahan menunjukkan parameter gempa telah melalui proses pembaruan dari informasi awal yang dikeluarkan BMKG beberapa saat setelah kejadian, sebuah prosedur standar ketika data kecepatan gelombang gempa dari lebih banyak stasiun pencatat mulai masuk.

Untuk pembaca awam, skala MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah ukuran intensitas getaran berdasarkan dampak yang dirasakan manusia dan kerusakan benda di permukaan. Skala II MMI berarti getaran dirasakan oleh sebagian orang, terutama yang sedang berada di dalam bangunan, dan benda-benda ringan yang digantung bisa tampak bergoyang. Sementara skala III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk besar yang melintas di dekat rumah, namun belum sampai menimbulkan kerusakan. Pada skala itu, masyarakat umumnya panik singkat tetapi tidak terjadi kerusakan bangunan yang signifikan.

Nagekeo dan Sikka: Wilayah yang Masih Ingat Guncangan 18 Agustus

Mbay yang disebut BMKG sebagai titik acuan lokasi gempa adalah ibu kota Kabupaten Nagekeo, kabupaten di pesisir utara Pulau Flores yang dimekarkan dari Kabupaten Ngada. Sementara Kabupaten Sikka beribu kota Maumere, salah satu kota terbesar di pesisir utara Flores. Kedua daerah ini termasuk wilayah yang ikut merasakan dampak gempa besar 18 Agustus lalu, yang pusatnya berada di sekitar Pulau Flores dan mengguncang sejumlah kabupaten di NTT. Baca Juga Gempa M6,4 Guncang Simalungun Sumatera Utara, Getaran Terasa hingga Medan

Bantuan dan layanan pemulihan untuk warga terdampak gempa Flores masih terus mengalir hingga pekan pertama September. Akun resmi TNI Angkatan Udara @_TNIAU, misalnya, mengunggah pendistribusian 72 ton bantuan untuk warga terdampak gempa NTT pada 2 September lalu (x.com/_TNIAU/status/2095065072028844130). Di sektor kesehatan, Rumah Sakit Apung (RSA) Laksamana Malahayati yang dikirim PDI Perjuangan telah melayani 150 warga di Desa Wudi, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, sebagaimana diunggah akun resmi @PDI_Perjuangan (x.com/PDI_Perjuangan/status/2095481946029908351).

Kapal rumah sakit itu dilepas dari Pelabuhan Merak, Banten, pada 20 Agustus 2026 atas arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan membawa kapten, kru, serta tenaga kesehatan untuk melayani warga terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut, menurut keterangan dalam unggahan yang sama. Kehadiran fasilitas kesehatan terapung ini dinilai penting karena Flores merupakan daerah kepulauan dan berbukit yang sebagian wilayahnya sulit dijangkau layanan kesehatan darat. Kehadiran gempa susulan seperti yang terjadi dini hari tadi menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik di kawasan itu masih berlangsung di tengah proses pemulihan.

Apa Arti Gempa Susulan bagi Warga?

Dalam siklus kegempaan, gempa besar hampir selalu diikuti rentetan gempa susulan (aftershock) yang dapat berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu. Magnitudo gempa susulan umumnya lebih kecil daripada gempa utama, meski sebagian bisa terasa cukup kuat karena kedalamannya dangkal. Gempa magnitudo 4,6 dini hari tadi, dengan kedalaman 7 kilometer dan pusat di laut, adalah contoh tipikal gempa susulan dangkal yang getarannya sampai ke daratan terdekat. Masyarakat di kawasan pesisir utara Flores sudah terbiasa dengan pola semacam ini sejak gempa besar 18 Agustus, ketika BMKG hampir setiap hari merilis informasi gempa susulan berkekuatan kecil hingga menengah di sekitar Pulau Flores dan Laut Flores.

Pada magnitudo di bawah 5 dan berpusat di laut, gempa semacam ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. BMKG hanya mengeluarkan peringatan tsunami untuk gempa besar yang memenuhi parameter tertentu. Meski demikian, getaran yang dirasakan warga yang sedang tidur atau beristirahat pada dini hari kerap menimbulkan kekhawatiran, apalagi bagi mereka yang baru saja mengalami gempa besar dua pekan sebelumnya. Informasi resmi dan terkini dari akun BMKG menjadi rujukan utama untuk menghindari kepanikan akibat informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi warga Nagekeo, Sikka, dan kabupaten lain di Flores, kejadian dini hari tadi juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan: mengenali jalur evakuasi, memastikan bangunan tempat tinggal dalam kondisi aman setelah guncangan besar sebelumnya, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan instansi terkait. Masyarakat juga dapat memantau informasi gempa secara langsung melalui akun resmi @infoBMKG yang memperbarui datanya setiap kali terjadi guncangan yang terekam sensor seismograf di seluruh Indonesia. ASATUNEWS.CO akan terus memperbarui informasi seputar perkembangan aktivitas gempa di NTT sebagaimana disampaikan kanal-kanal resmi.

Ditulis oleh

Lanjut Baca