Lompat ke konten

Polri Siagakan 176 Personel Bantu Warga di Tengah Erupsi Gunung Sinabung

Polri Siagakan 176 Personel Bantu Warga di Tengah Erupsi Gunung Sinabung
Foto: @DivHumas_Polri (X)

ASATUNEWS.CO, Karo — Polri menyiagakan 176 personel Bantuan Operasi (BKO) Polda Sumatera Utara untuk melayani dan menjaga warga di tengah erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung setinggi sekitar 2.460 meter di atas permukaan laut itu saat ini berstatus Level III (Siaga), sebagaimana disampaikan akun resmi Divisi Humas Polri, Kamis (3/9/2026).

Dalam keterangan resminya, Polri menyatakan terus memperkuat kesiapsiagaan dan pelayanan kepada masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Karo, TNI, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPBD, dan unsur terkait. Personel yang disiagakan terdiri atas tiga unsur, yaitu:

  • 92 personel Brigade Mobil (Brimob),
  • 80 personel Samapta,
  • 4 tim kesehatan.

Informasi lengkap mengenai penanganan erupsi Gunung Sinabung ini dapat disimak pada unggahan akun resmi @DivHumas_Polri di tautan berikut.

Pelayanan bagi Warga Terdampak

Kehadiran personel Polri di lokasi bencana difokuskan pada upaya pengamanan wilayah rawan, kesiapan evakuasi, pelayanan kesehatan, penyiraman abu vulkanik, serta pembagian 15.000 masker kepada masyarakat. Abu vulkanik yang beterbangan akibat erupsi menjadi perhatian utama karena dapat mengganggu pernapasan warga, terutama anak-anak dan lansia. Penyiraman abu vulkanik di permukiman dilakukan agar abu tidak beterbangan kembali dan mencemari udara maupun sumber air warga.

Kehadiran tim kesehatan di lokasi juga penting mengingat warga yang mengungsi maupun yang tetap bertahan di rumah kerap mengalami keluhan saluran pernapasan akibat menghirup abu. Personel gabungan terus memantau kondisi warga di desa-desa sekitar gunung, sekaligus memastikan kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan tetap terpenuhi selama masa siaga berlangsung.

Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti arahan personel Polri dan tim gabungan, serta tidak memasuki zona berbahaya di sekitar gunung. Polri menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat selama masa tanggap darurat berlangsung.

“Polri hadir untuk melayani dan menjaga masyarakat. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujar Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko.

Rangkaian Kesiapsiagaan Lintas Institusi

Penempatan personel Polri ini merupakan bagian dari rangkaian kesiapsiagaan lintas institusi menyusul peningkatan aktivitas Gunung Sinabung. Sehari sebelumnya, TNI juga menyiagakan 1.012 personel untuk mengantisipasi dampak aktivitas gunung tersebut, termasuk mendirikan pos komando utama di wilayah Kabupaten Karo. Polri dan TNI bekerja bersama BPBD serta pemerintah daerah dalam memastikan evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar warga berjalan lancar, dengan pembagian tugas yang saling melengkapi: TNI memperkuat logistik dan penanganan di lapangan, sementara Polri menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran evakuasi. Baca Juga KPK: 652 Laporan Gratifikasi Rp5,14 Miliar Jadi Milik Negara Selama Semester I 2026

Sinergi semacam ini menjadi penting karena penanganan bencana gunung api tidak bisa dilakukan satu institusi saja. PVMBG bertugas memantau aktivitas gunung dan memberikan rekomendasi status, BPBD mengoordinasikan penanganan di tingkat daerah, sementara TNI dan Polri mengerahkan personel untuk operasi lapangan dan pengamanan. Ketika status gunung dinaikkan, seluruh unsur ini biasanya langsung bergerak menyiapkan posko, jalur evakuasi, dan titik pengungsian sebelum warga benar-benar harus mengungsi.

Sejarah Erupsi dan Karakter Gunung Sinabung

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Setelah dormant sekitar 400 tahun, gunung ini kembali erupsi pada 2010 dan sejak itu mengalami fase erupsi berulang dengan karakteristik awan panas dan hujan abu yang kerap mengarah ke permukiman di lerengnya. Sejumlah erupsi besar pernah menimbulkan korban jiwa, termasuk erupsi 2014 yang menewaskan 16 orang akibat awan panas dan erupsi 2016 yang menewaskan 7 orang. Sebagian besar korban saat itu berada di kawasan yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai zona rawan, sehingga kepatuhan terhadap imbauan evakuasi menjadi pelajaran penting bagi warga dan aparat.

Aktivitas Gunung Sinabung dipantau ketat oleh PVMBG melalui sejumlah alat pemantau, dan setiap perubahan level status selalu diumumkan kepada masyarakat sekitar. Karena berada di kawasan pertanian yang subur, lereng Sinabung tetap dihuni dan digarap warga meski gunung berstatus aktif. Kondisi inilah yang membuat kesiapsiagaan dan sosialisasi kebencanaan kepada warga menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah berhenti bagi pemerintah daerah dan aparat.

Memahami Level Status Gunung Api

Level III (Siaga) berarti aktivitas gunung menunjukkan peningkatan yang semakin nyata dan erupsi yang mengancam wilayah sekitar dapat terjadi sewaktu-waktu. Pada level ini, masyarakat diimbau menjauhi kawasan rawan dan selalu mematuhi arahan petugas serta informasi resmi dari PVMBG dan pemerintah daerah. Sistem level status gunung api di Indonesia terbagi dalam empat tingkatan:

Level StatusKondisi
Level I (Normal)Aktivitas normal, tidak ada potensi ancaman
Level II (Waspada)Ada peningkatan aktivitas di atas level normal
Level III (Siaga)Peningkatan semakin nyata, erupsi mengancam wilayah
Level IV (Awas)Erupsi besar berpotensi terjadi, ancaman serius

Pada status Siaga, warga di desa-desa yang berada di dalam kawasan rawan biasanya sudah diminta menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, masker, dan kebutuhan dasar lainnya. Jalur evakuasi dan titik kumpul juga disosialisasikan ulang agar warga tidak kebingungan ketika perintah pengungsian dikeluarkan. Kehadiran aparat gabungan di lapangan diharapkan mempercepat penanganan dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal saat evakuasi.

Erupsi Gunung Sinabung juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana di Indonesia, negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan lebih dari 120 gunung api aktif. Sinergi antara Polri, TNI, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah dalam penanganan kali ini menjadi contoh nyata bagaimana aparat dan lembaga negara bergerak bersama untuk melindungi keselamatan warga di tengah bencana. Warga diimbau terus memantau informasi resmi dari akun PVMBG, BPBD setempat, dan institusi terkait agar tidak termakan informasi yang belum tentu benar.

Ditulis oleh

Lanjut Baca