ASATUNEWS.CO, Jakarta — Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mendesak Kementerian Kebudayaan segera mengambil langkah konkret untuk merekonstruksi Kampung Adat Sasak Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kawasan adat yang menjadi salah satu ikon wisata Pulau Lombok itu mengalami kebakaran hebat pada 22 Agustus 2026 lalu, yang nyaris menghanguskan sebagian besar area permukiman adat.
Desakan tersebut disampaikan Bonnie dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Kebudayaan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026). DPR RI kemudian mengangkat kembali pernyataan ini melalui akun media sosial resmi X @DPR_RI pada Jumat (4/9/2026) siang, lengkap dengan dokumentasi foto anggota dewan saat rapat kerja berlangsung.
Bonnie menilai rekonstruksi Kampung Adat Sasak Sade penting dilakukan karena kawasan tersebut memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya. Di satu sisi, kampung adat ini merupakan salah satu tujuan wisata utama di Lombok yang mendatangkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Di sisi lain, Sasak Sade menyimpan nilai sejarah dan kebudayaan yang perlu dilestarikan, sehingga intervensi pemerintah diperlukan untuk menjaga keberadaannya.
Kebakaran yang Nyaris Menghanguskan Kampung Adat
Kampung Adat Sasak Sade berlokasi di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Kampung ini dikenal luas karena rumah-rumah adat khas suku Sasak yang sebagian besar terbuat dari kayu, bambu, anyaman bedek, dan beratap ilalang. Material itulah yang membuat api cepat merambat ketika kebakaran terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
| Fakta Kebakaran | Keterangan |
|---|---|
| Waktu kejadian | Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 22.00 Wita |
| Lokasi | Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB |
| Bangunan terbakar | Sekitar 120 bangunan, mayoritas kayu, bambu, bedek, beratap ilalang |
| Korban jiwa | Tidak ada |
| Penanganan | Pemadaman hingga Minggu pagi oleh petugas gabungan, BPBD, TNI-Polri, dan warga |
| Dampak | Nyaris menghanguskan sebagian besar kawasan adat |
Kebakaran yang melanda kampung adat tersebut sempat menjadi perhatian nasional. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun warga kehilangan tempat tinggal dan sejumlah bangunan adat yang menjadi bagian dari identitas desa wisata tersebut. Peristiwa ini juga menegaskan pentingnya pendampingan pemulihan bagi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada pariwisata dan pelestarian budaya.
Pernyataan Bonnie Triyana di Raker Komisi X
Dalam rapat kerja bersama Menteri Kebudayaan itu, Bonnie secara tegas meminta kementerian tidak menunda intervensi. Pernyataan lengkapnya dikutip dari keterangan resmi DPR RI yang diunggah melalui akun X @DPR_RI di https://x.com/DPR_RI/status/2095753778603454570 . Berikut kutipan langsung Bonnie Triyana:
“Beberapa waktu lalu rumah adat, kampung adat Sasak Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat itu kebakaran. Dan itu nyaris atau bahkan menghanguskan hampir seluruhnya. Penting juga segera Kementerian Kebudayaan melakukan intervensi untuk merekonstruksi kampung adat tersebut,” ujar Bonnie dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Kebudayaan di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Rabu (2/9/2026).
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menegaskan bahwa penanganan kawasan adat tidak cukup hanya memulihkan bangunan secara fisik. Rekonstruksi perlu memperhatikan karakter dan nilai budaya yang melekat pada Kampung Adat Sasak Sade, sehingga proses pemulihannya tidak menghilangkan identitas masyarakat adat setempat. Keberadaan kampung adat, menurutnya, merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang membutuhkan perhatian dan perlindungan pemerintah, terlebih setelah mengalami bencana kebakaran.
Baca Juga
Pembukaan Latsarmil Komcad ASN Gelombang II 2026 di Halim
Nilai Sejarah di Balik Kampung Wisata Sade
Bonnie juga mengingatkan bahwa Kampung Adat Sasak Sade memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar destinasi wisata. Kawasan tersebut merupakan bagian dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Sasak yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk catatan sejarah perjuangan masyarakat setempat melawan kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20.
“Karena ini penting sekali dan tidak hanya menjadi tujuan wisata, tapi kita tahu bahwa daerah itu daerah yang sangat bersejarah dan memiliki catatan di dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda pada tahun 1907,” katanya.
Karena itu, Bonnie menilai upaya rekonstruksi perlu ditempatkan sebagai bagian dari pelestarian sejarah dan kebudayaan, bukan sekadar pemulihan fisik semata. Kawasan bersejarah seperti Sade memiliki nilai edukasi yang besar bagi generasi muda, sekaligus daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat peradaban dan perjuangan masyarakat Sasak.
Harapan Kepastian Bentuk Intervensi
Bonnie berharap Kementerian Kebudayaan dapat segera memberikan kepastian mengenai bentuk intervensi dan langkah rekonstruksi yang akan dilakukan. Langkah tersebut dinilai penting agar pemulihan Kampung Adat Sasak Sade dapat berjalan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah, budaya, serta karakter kawasan adat tersebut.
Desakan serupa juga muncul dari Komisi VIII DPR RI yang menekankan agar rekonstruksi Desa Adat Sade tetap mempertahankan konsep tradisional. Artinya, pemulihan tidak boleh mengubah wajah kampung adat menjadi bangunan modern yang justru menghilangkan keaslian budaya Sasak. Keselarasan antara dua komisi di DPR ini menunjukkan bahwa perlindungan kampung adat pasca-bencana menjadi perhatian lintas komisi.
Bagi masyarakat Sasak di Sade, kepastian rekonstruksi menjadi penentu masa depan kampung mereka. Selain sebagai tempat tinggal, kampung adat tersebut adalah sumber penghidupan dari sektor wisata yang selama ini menghidupi warga setempat. Semakin cepat pemerintah bergerak, semakin besar pula peluang pemulihan berjalan tanpa kehilangan keaslian budaya yang menjadi daya tarik utamanya.
Publik kini menunggu langkah lanjutan Kementerian Kebudayaan setelah desakan dari Komisi X DPR tersebut. Pertanyaan besarnya bukan hanya kapan rekonstruksi dimulai, tetapi bagaimana pemerintah memastikan setiap prosesnya melibatkan masyarakat adat setempat, sehingga pemulihan Kampung Adat Sasak Sade benar-benar menjadi milik bersama — dari masyarakat Sasak, untuk masyarakat Sasak.
