Lompat ke konten

Evakuasi Medis Udara Warnai Super Garuda Shield 2026 di Martapura

Evakuasi Medis Udara Warnai Super Garuda Shield 2026 di Martapura
Foto: Pusat Penerangan TNI (@Puspen_TNI) (X)

ASATUNEWS.CO, Martapura — TNI bersama personel kesehatan dari Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army), Australia, Kanada, dan Jepang menggelar latihan Evakuasi Medis Udara (Air Medevac) sebagai salah satu rangkaian Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan, Rabu (2/9/2026). Informasi tersebut disampaikan Pusat Penerangan TNI melalui akun resmi X (Twitter) @Puspen_TNI pada Kamis (3/9/2026) dini hari WIB, sebagaimana dikutip dari unggahan resminya: https://x.com/Puspen_TNI/status/2095275338230386712

Dalam keterangan resminya, Puspen TNI menyebut latihan ini menegaskan kesiapan TNI dalam melaksanakan dukungan kesehatan di medan operasi gabungan multinasional. Skenario yang diuji berlangsung berjenjang: prajurit yang mengalami luka di medan operasi terlebih dahulu mendapatkan pertolongan pertama di lokasi, sebelum dievakuasi ke Rumah Sakit Lapangan. Selanjutnya, pasien dipindahkan menggunakan helikopter Black Hawk menuju fasilitas kesehatan rujukan yang lebih lengkap dengan tetap memperoleh perawatan medis selama perjalanan udara.

Rantai Evakuasi dari Titik Luka hingga Rumah Sakit Rujukan

Air Medevac, kependekan dari aeromedical evacuation atau evakuasi medis udara, merupakan prosedur standar dalam operasi militer modern untuk memindahkan korban luka atau sakit dari area operasi menuju fasilitas kesehatan secara cepat. Dalam dunia militer, kecepatan evakuasi kerap menjadi penentu kondisi pasien, sekaligus menjaga moral pasukan yang bertugas di lapangan. Latihan di Puslatpur Martapura ini menguji seluruh mata rantai penanganan: pertolongan pertama di titik luka, stabilisasi kondisi pasien di Rumah Sakit Lapangan, hingga transportasi udara antarfasilitas kesehatan.

Penggunaan helikopter Black Hawk dalam skenario tersebut menunjukkan pentingnya armada helikopter untuk dukungan kesehatan. Black Hawk (UH-60) merupakan helikopter serbaguna yang dioperasikan luas oleh militer berbagai negara, termasuk varian S-70 yang digunakan TNI Angkatan Darat. Yang ditekankan dalam latihan ini bukan sekadar proses mengangkut pasien, melainkan kesinambungan perawatan: selama penerbangan menuju fasilitas rujukan, pasien tetap didampingi tenaga medis sehingga kondisinya terus terpantau hingga tiba di rumah sakit tujuan.

Keberadaan Rumah Sakit Lapangan dalam skenario tersebut menjadi mata rantai penting di antara lokasi kejadian dan fasilitas kesehatan permanen. Di sanalah pasien distabilkan terlebih dahulu sebelum menjalani perjalanan udara yang lebih jauh, sehingga risiko memburuknya kondisi di tengah perjalanan dapat ditekan. Penataan alur evakuasi yang rapi seperti ini merupakan praktik yang lazim diuji dalam latihan gabungan agar saat operasi nyata seluruh prosedur berjalan otomatis.

Interoperabilitas Tenaga Medis Lima Negara

Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan TNI bersama mitra dari US Army, Australia, Kanada, dan Jepang dalam melaksanakan prosedur penanganan darurat hingga evakuasi medis udara. Keterlibatan personel dari lima negara dalam satu rantai evakuasi menjadi ujian nyata interoperabilitas, yakni kemampuan satuan dari negara berbeda untuk bekerja sama dalam satu prosedur operasi standar yang sama.

Dalam operasi gabungan multinasional, pasien yang dievakuasi bisa saja berasal dari satuan negara lain, sehingga standar triase, penanganan luka, dan komunikasi medis harus saling dipahami oleh seluruh personel yang terlibat. Latihan semacam ini sekaligus menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara tenaga kesehatan TNI dan negara-negara mitra, sejalan dengan semangat SGS 2026 yang menekankan penguatan kerja sama pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Baca Juga Cucun Serahkan Bantuan Air Bersih Warga Sukarame Bandung

Super Garuda Shield 2026: Latihan Gabungan ke-V di Indo-Pasifik

Air Medevac di Martapura hanyalah satu dari sekian agenda SGS 2026, latihan gabungan bersama multinasional terbesar yang digelar Indonesia. Edisi ke-V tahun ini berlangsung sejak 31 Agustus hingga 11 September 2026 dan dibuka langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto di Gedung Graha Widya Adibrata, Sesko TNI, Bandung, pada Senin (31/8/2026). Latihan ini melibatkan 4.743 personel dari TNI dan negara-negara mitra di kawasan Indo-Pasifik, dengan cakupan latihan taktis pasukan darat, operasi udara, hingga simulasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Sejumlah rangkaian SGS 2026 telah berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Sebelumnya, 13 personel pasukan operasi khusus (SOF) gabungan TNI dan US Army melaksanakan infiltrasi udara di Lanud Gatot Subroto pada Selasa (1/9/2026), dengan penerjunan dari pesawat CN-235 Angkatan Udara Perancis. TNI Angkatan Laut bersama US Navy juga menggelar seminar hukum dan kesehatan di Kolat Koarmada I, Jakarta Utara, pada 1-2 September 2026. Kini giliran aspek dukungan kesehatan di medan operasi darat yang diuji langsung di Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan.

Puslatpur TNI AD Martapura sendiri merupakan pusat latihan tempur yang selama ini digunakan TNI Angkatan Darat untuk menggelar latihan satuan, termasuk latihan gabungan dengan negara sahabat. Keberadaannya di Sumatera Selatan menjadikannya salah satu area latihan SGS 2026 di luar Pulau Jawa, seiring pelaksanaan latihan yang tersebar di sejumlah daerah. Pemilihan lokasi yang beragam ini sekaligus menguji kemampuan TNI memobilisasi personel dan materiil lintas wilayah.

Pentingnya Dukungan Kesehatan dalam Operasi dan Misi Kemanusiaan

Dukungan kesehatan kerap menjadi faktor krusial yang menentukan kelancaran sebuah operasi militer. Kemampuan mengevakuasi korban secara cepat dan aman tidak hanya menjaga nyawa prajurit, tetapi juga memastikan satuan tetap mampu melanjutkan tugasnya di lapangan. Di luar konteks operasi militer, kapabilitas evakuasi medis udara yang dimiliki TNI juga relevan untuk operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana (humanitarian assistance and disaster relief), yang selama ini kerap menjadi andalan Indonesia ketika membantu korban bencana di kawasan.

Latihan dengan skenario realistis seperti Air Medevac ini menjadi modal penting bagi tenaga kesehatan TNI untuk menghadapi berbagai kondisi di lapangan, termasuk daerah terpencil yang sulit dijangkau transportasi darat. Kegiatan semacam ini sekaligus memperkuat citra TNI sebagai kekuatan pertahanan yang profesional dan siap bersinergi dengan mitra di kawasan, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap dinamika keamanan Indo-Pasifik.

Dengan SGS 2026 yang masih berlangsung hingga 11 September 2026, sejumlah agenda latihan lain diperkirakan terus berjalan di berbagai wilayah Indonesia. TNI dipastikan menyampaikan setiap perkembangannya kepada publik melalui akun resmi Pusat Penerangan TNI, @Puspen_TNI, di platform X.

Ditulis oleh

Lanjut Baca