Lompat ke konten

Sofyan Tan: Jangan Nomorduakan Cabang Olahraga Perorangan

Sofyan Tan: Jangan Nomorduakan Cabang Olahraga Perorangan
Foto: DPR RI (X)

ASATUNEWS.CO, Jakarta — Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan meminta pemerintah tidak mengesampingkan cabang olahraga perorangan dalam kebijakan pembinaan prestasi nasional. Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Menteri Pemuda dan Olahraga di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026), dan kembali disorot melalui unggahan akun resmi @DPR_RI di X, Rabu (2/9/2026) malam.

Menurut Sofyan Tan, orientasi pembinaan olahraga nasional tidak semestinya hanya didasarkan pada popularitas atau jumlah peminat suatu cabang. Sejumlah cabang olahraga perorangan selama ini justru menjadi andalan Indonesia meraih prestasi dan medali di berbagai ajang internasional, sehingga perhatiannya dinilai perlu diseimbangkan dengan cabang olahraga yang memiliki basis massa besar.

“Kalau kita ingin mencapai prestasi yang baik, berarti jangan menomorduakan cabang olahraga perorangan,” kata Sofyan dalam rapat kerja tersebut, dikutip dari unggahan resmi DPR RI.

Lumbung Medali Indonesia Berasal dari Cabor Perorangan

Sofyan Tan menilai rekam jejak prestasi Indonesia membuktikan banyak cabang olahraga perorangan yang mampu mengibarkan Merah Putih di kompetisi internasional. Ia menyebut bulu tangkis, tenis, tenis meja, catur, bridge, judo, karate, angkat besi, hingga panahan sebagai sejumlah cabang yang selama ini menjadi andalan.

“Kita bisa mulai dengan kebanggaan kita dengan bulu tangkis, tenis, tenis meja, kemudian sampai catur, bridge. Andalan kita judo, karate, angkat besi, hampir semua yang memberikan kita wajah Indonesia dan lagu Indonesia Raya berkibar itu umumnya adalah cabang perorangan,” ujar politisi dari Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Catatan prestasi Indonesia di panggung tertinggi memang banyak diwarnai cabang perorangan. Pada Olimpiade Paris 2024, dua medali emas Indonesia lahir dari panjat tebing nomor speed lewat Veddriq Leonardo dan angkat besi kelas 73 kilogram lewat Rizki Juniansyah, sementara Gregoria Mariska Tunjung menyumbang perunggu dari bulu tangkis tunggal putri. Sebelumnya, bulu tangkis secara konsisten menjadi lumbung medali sejak era 1990-an. Realitas semacam inilah yang mendasari kekhawatiran Sofyan apabila arah pembinaan bergeser terlalu jauh ke cabang olahraga yang ramai peminat tetapi belum tentu menghasilkan prestasi.

Pola serupa terlihat di berbagai ajang multicabang. Bulu tangkis menjadi cabang yang mencatatkan nama Indonesia di papan atas sejak Olimpiade Barcelona 1992, ketika Alan Budikusuma dan Susi Susanti menghadirkan dua medali emas perdana bagi Indonesia. Sejak itu, tradisi emas dari cabang-cabang perorangan terus berulang lewat nama-nama seperti Taufik Hidayat dan Hendrawan di tunggal putra, hingga Gregoria Mariska Tunjung di tunggal putri. Fakta sejarah semacam ini menjadi dasar argumen bahwa pembinaan cabang perorangan bukan sekadar pelengkap, melainkan investasi prestasi yang telah teruji.

Dalam praktiknya, posisi cabang olahraga perorangan kerap dianggap kurang menarik dibandingkan cabang yang memiliki basis massa besar seperti sepak bola. Padahal, kebutuhan pembinaannya tidak kalah kompleks, mulai dari anggaran pemusatan latihan, jumlah pelatih berkualitas, fasilitas latihan, hingga program kompetisi berjenjang. Jika alokasi dukungan hanya mengikuti popularitas, cabang perorangan yang atletnya berpotensi besar justru bisa kehilangan ruang berkembang.

Baca Juga Panglima TNI Naikkan Pangkat 2 Prajurit Pengibar Merah Putih

Pembinaan Berbasis Kajian, Bukan Sekadar Popularitas

Karena itu, Sofyan meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pola pembinaan dan pengalokasian dukungan bagi cabang olahraga. Ia menekankan, olahraga yang berpotensi besar menghasilkan prestasi perlu mendapat perhatian berdasarkan kajian dan rekam jejak, bukan semata-mata karena populer di tengah masyarakat.

Ia menegaskan tidak bermaksud menolak dukungan terhadap cabang olahraga yang memiliki basis massa besar. Namun, keseimbangan kebijakan tetap diperlukan agar cabang olahraga yang terbukti mampu menyumbangkan medali tidak kehilangan dukungan pembinaan. Pesan ini dinilai relevan di tengah gencarnya pemerintah membangun ekosistem olahraga yang lebih luas, dari pembinaan usia dini hingga liga-liga profesional, tanpa boleh mengorbankan cabang-cabang yang selama ini menjadi tulang punggung prestasi.

Pengurus Olahraga Sebaiknya Diisi Orang yang Memahami Cabangnya

Sofyan Tan juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia yang mengelola organisasi olahraga. Menurutnya, kepengurusan cabang olahraga seharusnya lebih banyak mempertimbangkan pengalaman dan pemahaman terhadap cabang olahraga yang dipimpin, bukan sekadar nama besar atau kepentingan politik.

“Kita sudah tidak lagi melihat bahwa para pengurus olahraga yang populer tersebut datang dari olahragawan. Misalnya Pak Taufik Hidayat memimpin bulu tangkis, pasti jauh lebih hebat daripada seorang pengusaha atau pejabat yang ingin mempunyai nama di sana,” katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya rekam jejak atlet dan pemahaman teknis dalam mengelola federasi, agar program pembinaan berjalan realistis dan berkelanjutan.

Anggaran Kemenpora Rp4 Triliun Lebih dan Pemetaan Berbasis Sains

Legislator dari daerah pemilihan Sumatra I itu menilai penguatan cabang olahraga perorangan juga perlu berjalan beriringan dengan pemetaan berbasis sains. Dengan mengetahui karakteristik atlet, potensi daerah, serta cabang olahraga yang paling berpeluang meraih medali, pemerintah dapat mengarahkan anggaran secara lebih efektif.

Ia mengingatkan bahwa peningkatan prestasi pada akhirnya dapat menjadi dasar untuk memperkuat dukungan anggaran pada masa mendatang. Karena itu, besarnya anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mencapai lebih dari Rp4 triliun harus diikuti dengan program pembinaan yang terukur dan menghasilkan capaian prestasi.

Sofyan berharap kebijakan tersebut dapat memperkuat ekosistem olahraga nasional sekaligus memastikan cabang-cabang olahraga yang selama ini menjadi lumbung medali Indonesia tetap memperoleh perhatian dan pembinaan secara berkelanjutan. Sorotan Komisi X soal arah pembinaan prestasi ini juga sejalan dengan dorongan komisi agar pemerintah memperkuat dukungan bagi cabang olahraga berprestasi secara keseluruhan, tidak hanya yang populer atau banyak dimainkan masyarakat.

Informasi resmi mengenai pernyataan Sofyan Tan tersebut dibagikan langsung melalui akun X DPR RI pada Rabu (2/9/2026) pukul 20.01 WIB, merujuk pada laporan E-Media DPR RI. Masyarakat yang ingin menyimak detail kegiatan Komisi X dapat memantau unggahan resmi di akun X DPR RI.

Ditulis oleh

Lanjut Baca