ASATUNEWS.CO, Cirebon — Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Saan Mustopa mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak El Nino yang dapat memengaruhi ketersediaan air, sekaligus meminta penggunaan air dilakukan secara lebih hemat. Pesan tersebut disampaikan Saan saat melakukan kunjungan ke Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu (30/8/2026), dan kembali disorot melalui unggahan resmi akun X DPR RI, @DPR_RI, Selasa (1/9/2026) malam WIB.
Dalam kunjungan itu, Saan meninjau langsung lokasi yang akan dijadikan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Slangit. Ia melihat sendiri persoalan keterbatasan akses air bersih yang selama ini dihadapi masyarakat setempat. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena persoalan air berpotensi semakin parah ketika masyarakat memasuki periode cuaca yang dapat mengurangi ketersediaan air, seperti saat fenomena El Nino terjadi.
“Makanya tentu kewaspadaan, kehati-hatian dan plus juga penggunaan air bersih harus lebih hemat,” ujar Saan dalam wawancara dengan media di lokasi kunjungan, dikutip dari laman resmi DPR RI, E-Media Parlemen. Ia meminta masyarakat tidak menggunakan air secara berlebihan, karena air merupakan kebutuhan dasar yang harus dikelola secara bijak, terutama ketika kondisi lingkungan berpotensi mengalami kekeringan.
Ancaman Nyata di Tengah Musim Kemarau
El Nino adalah fenomena alam berupa pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Ketika fenomena ini terjadi, musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, sehingga ketersediaan air di waduk, sungai, sumur, dan sumber air lainnya menyusut drastis. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian yang bergantung pada irigasi, hingga pasokan air bersih untuk fasilitas umum.
Saan menegaskan bahwa persoalan air tidak hanya menjadi tantangan bagi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi persoalan yang lebih luas apabila kondisi iklim menyebabkan ketersediaan air semakin terbatas. “Air ke depan juga akan menjadi persoalan serius buat kita semua,” katanya. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kekeringan bukan lagi sekadar isu musiman, melainkan ancaman struktural yang membutuhkan kesiapan jangka panjang, terutama bagi daerah-daerah yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih.
Kunjungan Saan ke Desa Slangit sendiri bukan tanpa alasan. Desa di Kecamatan Klangenan ini termasuk wilayah yang kerap mengalami kesulitan air bersih, terutama pada musim kemarau. Rencana pembangunan sumur bor di desa tersebut diharapkan menjadi solusi jangka pendek yang bisa langsung dirasakan warga, sementara solusi jangka panjang tetap membutuhkan perencanaan infrastruktur yang matang dari pemerintah pusat maupun daerah.
Kondisi serupa sebenarnya terjadi di banyak daerah lain di Indonesia. Wilayah-wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sulawesi kerap menjadi langganan kekeringan saat El Nino melanda. Di daerah-daerah tersebut, warga sering kali harus membeli air bersih dengan harga tinggi atau menempuh jarak jauh untuk mengambil air dari sumber terdekat. Karena itu, imbauan hemat air yang disampaikan Saan dinilai relevan tidak hanya untuk warga Cirebon, tetapi juga untuk masyarakat di seluruh Indonesia yang akan menghadapi musim kemarau.
Baca Juga
Sari Yuliati: Framing Negatif Bikin Investor Batal Masuk Pati, Masyarakat Pesisir Jangan Jadi Korban
Dorongan Inovasi Infrastruktur Air
Tidak hanya mengimbau masyarakat, Saan juga mendorong Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, untuk terus melakukan inovasi dalam mengantisipasi berbagai persoalan terkait sumber daya air. Menurutnya, upaya pemerintah perlu berjalan beriringan dengan kesadaran masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur dan teknologi penyediaan air, sementara masyarakat juga harus menggunakan air secara efisien.
Ia menilai langkah antisipasi menjadi semakin penting bagi daerah yang masyarakatnya masih mengalami keterbatasan akses air bersih. Saan berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan air sekaligus mengurangi risiko dampak kekeringan di masa mendatang. Tanpa sinergi tersebut, upaya membangun infrastruktur semata tidak akan cukup untuk menjamin ketersediaan air bagi seluruh lapisan masyarakat.
| Poin Imbauan | Penjelasan |
|---|---|
| Kewaspadaan | Masyarakat diminta waspada terhadap dampak El Nino yang mengurangi ketersediaan air |
| Hemat Air | Penggunaan air bersih harus lebih hemat dan tidak berlebihan |
| Inovasi Infrastruktur | Kementerian PU/Ditjen SDA didorong berinovasi dalam penyediaan air |
| Sinergi | Pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat bersinergi memperkuat ketahanan air |
Isu Air Jadi Perhatian Parlemen
Pernyataan Saan ini menjadi bagian dari perhatian DPR RI terhadap isu ketahanan air nasional. Sebelumnya, sejumlah anggota parlemen juga menyoroti perlunya mitigasi dini menghadapi dampak El Nino, termasuk kaitannya dengan stabilitas harga pangan dan kesiapan daerah-daerah rawan kekeringan. Hal ini menunjukkan bahwa isu air tidak lagi dipandang sebagai persoalan lokal semata, melainkan agenda nasional yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Kekhawatiran terhadap El Nino memang tidak berlebihan. Dalam beberapa siklus terakhir, fenomena ini terbukti memengaruhi produksi pangan nasional, terutama padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi. Ketika sawah kekeringan, hasil panen menurun dan harga beras berpotensi naik, yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat. Karena itu, langkah hemat air yang digaungkan Saan bukan sekadar imbauan lingkungan, melainkan bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga.
Bagi masyarakat, pesan Saan setidaknya memberi panduan sederhana yang bisa langsung diterapkan: mulai dari tidak membiarkan keran menyala tanpa perlu, menampung air hujan saat musim hujan tiba, hingga melaporkan kerusakan infrastruktur air ke pemerintah setempat. Langkah-langkah kecil tersebut, jika dilakukan bersama-sama, dapat membantu meringankan beban ketersediaan air ketika musim kemarau panjang datang.
Hingga berita ini diturunkan, rencana pembangunan sumur bor di Desa Slangit masih menunggu realisasi dari pemerintah daerah bersama instansi terkait. Warga berharap fasilitas tersebut segera terwujud mengingat kebutuhan air bersih yang mendesak, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
