ASATUNEWS.CO, JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendapat sorotan dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu.
Said Didu menyampaikan kritik tersebut melalui akun media sosial X (Twitter) miliknya pada Selasa (11/8/2026).
Dalam unggahannya, Said Didu menyinggung pernyataan Prabowo yang sebelumnya memuji Bahlil dan membahas ukuran kecerdasan seseorang yang menurutnya tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang pendidikan atau kampus tempat seseorang menempuh pendidikan.
Said Didu menilai pernyataan tersebut justru dapat memberikan kesan bahwa pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting.
“Demi ‘memuji’ @bahlillahadalia yang sekolahnya tidak jelas maka disimpulkan seakan sekolah tidak penting.”
Said Didu kemudian melanjutkan kritiknya dengan menyinggung orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan baik, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memainkan kepentingan politik.
“Bagi yang sekolah baik tapi tidak bisa licik, tidak bisa menjilat, dan tidak berbakat culas demi jabatan seakan tidak berguna.”
Di akhir unggahannya, Said Didu menuliskan ungkapan bernada sindiran, “Ampuuunnnn.”
Pernyataan Prabowo tentang Bahlil
Komentar Said Didu tersebut muncul setelah pernyataan Prabowo yang memuji Bahlil Lahadalia.
Dalam sejumlah pemberitaan, Prabowo disebut menilai Bahlil sebagai salah satu sosok yang cerdas. Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan karena dikaitkan dengan latar belakang pendidikan Bahlil.
Baca Juga
Pidato Kenegaraan Prabowo: Empat Pedoman, Target Ekonomi 6 Persen
Sorotan terhadap Bahlil bukan hal baru. Latar belakang pendidikan dan perjalanan akademiknya sebelumnya juga pernah menjadi perhatian publik, terutama setelah Bahlil menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia.
Namun, konteks pernyataan Prabowo adalah mengenai ukuran kecerdasan seseorang yang menurutnya tidak dapat semata-mata diukur dari nama atau reputasi institusi pendidikan.
Kritik Said Didu Jadi Perbincangan
Komentar Said Didu kemudian ikut menjadi perhatian karena menggunakan istilah “licik”, “menjilat”, dan “culas” dalam kritiknya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan atau kritik Said Didu terhadap konteks politik yang ia tangkap dari pernyataan Prabowo.
Said Didu tidak menyebut secara eksplisit bahwa istilah tersebut ditujukan kepada individu tertentu selain konteks yang ia sampaikan dalam unggahannya.
Sejumlah media kemudian mengangkat komentar tersebut sebagai bagian dari perdebatan mengenai standar kecerdasan, pendidikan, dan faktor yang menentukan seseorang dapat memperoleh posisi penting dalam pemerintahan.
Pendidikan dan Pengalaman Jadi Perdebatan
Perdebatan mengenai latar belakang pendidikan pejabat publik sebenarnya bukan persoalan baru.
Di satu sisi, pendidikan formal dapat menjadi salah satu indikator pengetahuan dan kompetensi seseorang. Namun di sisi lain, pengalaman, kemampuan kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, serta pengalaman di lapangan juga sering menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam menilai kapasitas seseorang.
Pernyataan Prabowo mengenai Bahlil kemudian memunculkan perdebatan mengenai sejauh mana latar belakang pendidikan harus menjadi ukuran dalam menilai kecerdasan seseorang.
Said Didu mengambil posisi kritis dengan menilai pernyataan tersebut berpotensi merendahkan arti pendidikan bagi orang-orang yang telah menempuh pendidikan dengan baik.
