Lompat ke konten

Kopaska dan US Navy Gelar Latihan di Atas Kapal US Coast Guard Saat SGS 2026

Kopaska dan US Navy Gelar Latihan di Atas Kapal US Coast Guard Saat SGS 2026
Foto: @Puspen_TNI (X)

ASATUNEWS.CO, Jakarta — Personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut bersama United States Navy (US Navy) melaksanakan survei dan latihan parsial di atas kapal US Coast Guard (Penjaga Pantai Amerika Serikat) Charles Moulthrope di Dermaga IKT Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) ke-V Tahun 2026 yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.

Informasi tersebut disampaikan Pusat Penerangan TNI melalui akun resmi X @Puspen_TNI pada Kamis (3/9/2026). Dalam keterangannya, TNI menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan interoperabilitas pasukan khusus dalam menghadapi ancaman asimetris di lingkungan maritim. Personel Kopaska dan US Navy menyelaraskan prosedur, komunikasi, formasi pergerakan, serta teknik penyerbuan dengan mengacu pada standar operasi khusus. Detail kegiatan dapat disimak pada unggahan resmi @Puspen_TNI di x.com/Puspen_TNI/status/2095437614023356759.

Latihan di Atas Kapal Charles Moulthrope

Yang menarik dari kegiatan kali ini adalah platform yang digunakan: sebuah kapal milik US Coast Guard, yakni Charles Moulthrope. Kehadiran unsur Penjaga Pantai Amerika Serikat dalam Super Garuda Shield menunjukkan bahwa latihan gabungan tahun ini tidak hanya melibatkan angkatan darat dan udara, tetapi juga memperhitungkan dimensi maritim secara serius. Kapal tersebut bersandar di Dermaga IKT Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan menjadi tempat personel dua negara menyamakan prosedur sebelum nantinya diterapkan dalam skenario yang lebih kompleks.

Survei yang dilakukan personel Kopaska dan US Navy di atas kapal menjadi bagian penting dari latihan. Melalui survei, para prajurit memetakan kondisi fisik kapal, titik-titik strategis, hingga jalur pergerakan yang akan digunakan dalam latihan penyerbuan atau penguasaan kapal. Adapun latihan parsial dilakukan untuk menyelaraskan standar operasi antara kedua satuan, termasuk tata cara komunikasi, formasi pergerakan di ruang sempit, serta teknik membuka akses dan mengamankan sasaran di atas kapal.

Menghadapi Ancaman Asimetris di Laut

Fokus latihan pada ancaman asimetris mencerminkan perkembangan nyata tantangan keamanan maritim. Berbeda dengan ancaman konvensional antarnegara, ancaman asimetris datang dari aktor non-negara dengan cara-cara yang tidak terduga, seperti perompakan, pembajakan kapal, penyelundupan narkoba dan barang ilegal, terorisme maritim, hingga pencurian ikan. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau dan jalur pelayaran sibuk, sangat rentan terhadap berbagai modus tersebut.

Dalam konteks inilah interoperabilitas pasukan khusus menjadi penting. Ketika dua negara atau lebih harus bekerja sama dalam operasi maritim, perbedaan prosedur, bahasa, maupun perlengkapan bisa menjadi penghambat. Latihan semacam ini memastikan bahwa ketika dibutuhkan, Kopaska dan pasukan khusus Angkatan Laut AS dapat bergerak dengan standar yang sama, saling memahami isyarat komunikasi, dan bertindak dalam satu kerangka operasi. Penguasaan kapal yang dicurigai membawa muatan ilegal, misalnya, menuntut koordinasi yang presisi agar operasi berjalan aman bagi seluruh personel yang terlibat.

Baca Juga Harga Telur Anjlok di Tingkat Peternak, Fraksi PDIP DPR Kawal Nasib Peternak

Kopaska sendiri merupakan satuan khusus kebanggaan TNI Angkatan Laut yang telah berdiri sejak awal tahun 1960-an. Prajuritnya dilatih untuk mampu bertempur di bawah permukaan air, melakukan penghancuran sasaran bawah air, hingga melaksanakan operasi khusus di lingkungan pantai dan kapal. Dengan kemampuan tersebut, Kopaska kerap dilibatkan dalam operasi pengamanan objek vital, penanggulangan terorisme maritim, serta latihan bersama dengan satuan khusus negara sahabat. Keterlibatan mereka dalam SGS 2026 menegaskan kembali kesiapan satuan elite TNI AL dalam menghadapi berbagai spektrum ancaman di laut.

Rangkaian Kegiatan Super Garuda Shield 2026

Super Garuda Shield merupakan latihan gabungan tahunan antara TNI dan Amerika Serikat yang kini melibatkan sejumlah negara mitra. Sejak dibuka pada awal September 2026, berbagai rangkaian kegiatan telah berlangsung di sejumlah lokasi, dari Sumatra hingga Jawa. Berikut sebagian kegiatan SGS 2026 yang telah dilaporkan melalui kanal resmi TNI:

KegiatanLokasiWaktu
Seminar Hukum dan Kesehatan TNI AL–US NavyKolat Koarmada I, Kelapa Gading, Jakarta Utara1–2 September 2026
Latihan menembak mortir dan reaksi (Marfor)Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung1 September 2026
Evakuasi medis udara (Air Medevac)Puslatpur TNI AD Martapura, Sumatra Selatan2 September 2026
Simulasi tanggap bencana HADR (Tabletop Exercise)Bandung, Jawa Barat2 September 2026
Survei dan latihan parsial Kopaska–US NavyDermaga IKT Tanjung Priok, Jakarta Utara2 September 2026

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan keluasan skenario latihan SGS 2026, mulai dari operasi militer konvensional, operasi pasukan khusus, hingga penanganan bencana kemanusiaan. Partisipasi Kopaska dalam latihan maritim juga menegaskan peran TNI Angkatan Laut sebagai garda utama pertahanan di laut, sesuai doktrin pertahanan negara kepulauan.

Apa Artinya bagi Indonesia

Bagi Indonesia, latihan semacam ini memiliki nilai strategis ganda. Pertama, dari sisi kemampuan, latihan bersama memungkinkan prajurit TNI mengukur kapabilitasnya dengan standar internasional dan menyerap pengetahuan baru dari mitra. Kedua, dari sisi diplomasi pertahanan, keterlibatan aktif dalam latihan multinasional memperkuat posisi Indonesia di kawasan dan membangun kepercayaan dengan negara sahabat.

Seluruh rangkaian kegiatan SGS 2026 digelorakan melalui tagar kebersamaan seperti #sgs26, #TogetherWeTrain, dan #StrengthThroughPartnership yang konsisten digunakan dalam setiap unggahan resmi TNI. Tagar-tagar tersebut mencerminkan semangat latihan yang tidak hanya mengejar capaian teknis, tetapi juga mempererat hubungan antarprajurit dari berbagai negara.

Kehadiran unsur maritim asing di Tanjung Priok juga menjadi penanda bahwa kerja sama pertahanan Indonesia–Amerika Serikat terus berlanjut di tengah dinamika geopolitik kawasan. Yang terpenting bagi publik, seluruh rangkaian SGS 2026 berjalan dengan tetap menghormati kedaulatan dan hukum Indonesia, sebagaimana ditegaskan TNI dalam setiap keterangan resminya. Masyarakat pun dapat memaknai latihan ini sebagai bagian dari upaya menjaga profesionalisme prajurit dalam mengamankan salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia, yakni perairan Indonesia.

Ditulis oleh

Lanjut Baca