ASATUNEWS.CO, Manggarai — Tim medis PDI Perjuangan kembali turun ke lapangan membantu pemulihan warga korban gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, tim yang dipimpin Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan dr. Ribka Tjiptaning memberikan pelayanan kesehatan kepada 107 warga di Desa Golo Watu, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Kamis (3/9/2026). Kehadiran tim medis ini menjadi bagian dari rangkaian panjang aksi kemanusiaan partai berlambang banteng itu sejak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya pada 18 Agustus 2026 lalu.
Dalam keterangan yang diunggah melalui akun resmi @PDI_Perjuangan di X pada Jumat (4/9/2026) siang, kegiatan tersebut juga dihadiri Wasekjen DPP PDI Perjuangan Sri Rahayu dan Ketua DPD PDI Perjuangan NTT Yunus Takandewa. Pelayanan kesehatan diberikan langsung di tengah komunitas warga yang masih dalam masa pemulihan pascagempa, menjangkau mereka yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas kesehatan karena kondisi darurat. “Langkah ini merupakan upaya PDI Perjuangan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan kesehatan sekaligus mendukung pemulihan warga pascagempa,” demikian bunyi keterangan resmi partai tersebut.
Gempabumi M7,7 yang berpusat di Laut Flores pada 18 Agustus 2026 telah menimbulkan kerusakan signifikan di sejumlah kabupaten, antara lain Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sikka, dan Nagekeo. Ribuan bangunan rumah, fasilitas umum, hingga sekolah mengalami kerusakan, dan sebagian warga masih bertahan di lokasi pengungsian hingga pekan pertama September ini. Kondisi itulah yang membuat layanan kesehatan keliling seperti yang dilakukan tim medis PDI Perjuangan menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi warga lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak di desa-desa terpencil.
Layanan Kesehatan di Tengah Keterbatasan
Desa Golo Watu berada di Kecamatan Wae Rii, salah satu wilayah di Kabupaten Manggarai yang merasakan dampak guncangan gempa. Akses layanan kesehatan di daerah-daerah semacam ini umumnya mengandalkan puskesmas kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari permukiman warga, sehingga kehadiran tim medis yang mendatangi warga menjadi solusi praktis di masa tanggap darurat dan transisi pemulihan.
Menurut unggahan resmi PDI Perjuangan yang dapat disimak di tautan berikut https://x.com/PDI_Perjuangan/status/2095783926837194970 , sebanyak 107 warga mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran dr. Ribka Tjiptaning — politisi yang juga dikenal luas sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang kerap menyuarakan isu kesehatan masyarakat — menegaskan arah konsentrasi partai pada pemulihan layanan kesehatan dasar pascabencana. Sementara itu, keterlibatan Ketua DPD PDI Perjuangan NTT Yunus Takandewa memastikan koordinasi kegiatan berjalan dengan pemerintah daerah dan aparat setempat.
Rangkaian Aksi PDI Perjuangan untuk Korban Gempa NTT
Turunnya tim medis ke Desa Golo Watu bukan aksi pertama PDI Perjuangan sejak gempa mengguncang NTT. Sejak pertengahan Agustus, partai tersebut menggerakkan kader, relawan, hingga organisasi sayapnya untuk membantu warga terdampak di berbagai kabupaten. Berikut rangkaian kegiatan yang terdokumentasi dari unggahan resmi partai dan para kadernya:
| Waktu | Kegiatan | Lokasi |
|---|---|---|
| 17–19 Agustus 2026 | Peninjauan korban dan penyaluran bantuan bagi 83 kepala keluarga, dengan 14 penerima prioritas | Kuwus Barat, Manggarai Barat |
| 20 Agustus 2026 | Badan Bencana Gempa (BAGUNA) pimpinan Tri Rismaharini menggelar edukasi tanggap bencana di posko partai | Nanga Lok, Kecamatan Elar, Manggarai Timur |
| 3 September 2026 | Tim medis DPP dipimpin dr. Ribka Tjiptaning melayani kesehatan 107 warga | Desa Golo Watu, Wae Rii, Manggarai |
Selain tiga kegiatan di atas, kader PDI Perjuangan di DPR RI juga aktif menyuarakan perlunya percepatan pemulihan, mulai dari perbaikan sekolah terdampak, penyediaan hunian sementara, hingga penguatan layanan sosial bagi penyintas. Pola yang konsisten ini menunjukkan bahwa respons kebencanaan tidak hanya menjadi domain pemerintah, tetapi juga dijalankan partai politik sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga
Aspirasi 200 Serikat Pekerja Jadi Bahan RUU Ketenagakerjaan
Pemulihan Pascagempa yang Masih Panjang
Gempa bumi M7,7 di Laut Flores tercatat sebagai salah satu bencana terbesar yang melanda NTT dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, kementerian terkait, serta pemerintah daerah masih terus menjalankan penanganan darurat hingga masa transisi pemulihan. Logistik bantuan, dapur umum, layanan kesehatan, hingga trauma healing bagi anak-anak sekolah terus digelar di sejumlah titik pengungsian.
Di sektor pendidikan, data sementara menunjukkan ratusan sekolah di NTT mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda-beda, sehingga kegiatan belajar mengajar di sejumlah daerah sempat terganggu dan membutuhkan skema pembelajaran darurat. Di sektor hunian, banyak warga yang rumahnya rusak berat masih menunggu kepastian program perbaikan maupun hunian sementara yang layak. Pada titik inilah kontribusi berbagai elemen masyarakat, termasuk partai politik dan organisasi kemasyarakatan, menjadi penopang penting bagi warga sebelum program pemulihan pemerintah berjalan penuh.
Dari sisi pemenuhan kebutuhan dasar, dapur umum bersama juga masih dioperasikan di sejumlah kabupaten terdampak untuk memastikan warga pengungsian mendapatkan makanan layak setiap hari, dengan kapasitas produksi yang terus disesuaikan kebutuhan. Bantuan logistik dari pemerintah pusat, TNI, Polri, BUMN, hingga organisasi kemanusiaan terus mengalir ke titik-titik pengungsian. Dalam situasi seperti ini, layanan kesehatan yang proaktif mendatangi warga — alih-alih menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan — terbukti menjadi pendekatan yang paling efektif menjangkau kelompok yang paling rentan.
Apa Artinya bagi Warga Terdampak
Bagi warga Desa Golo Watu dan sekitarnya, kehadiran tim medis berarti akses terhadap pemeriksaan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya transportasi yang tidak sedikit. Pada masa pascagempa, risiko penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, diare, hingga gangguan psikologis cenderung meningkat akibat kondisi tempat tinggal sementara, keterbatasan air bersih, dan stres berkepanjangan. Layanan kesehatan yang menjangkau langsung ke desa menjadi langkah pencegahan yang efektif.
Kelompok rentan — lanjut usia, ibu hamil dan menyusui, anak-anak, serta penyandang disabilitas — menjadi prioritas utama dalam layanan kesehatan pascabencana. Mereka umumnya paling rentan terhadap penyakit dan paling sulit menjangkau fasilitas kesehatan. Dengan menjangkau langsung ke tingkat desa, tim medis dapat mendeteksi lebih dini potensi masalah kesehatan, memberikan pengobatan dasar, sekaligus merujuk kasus-kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut di puskesmas atau rumah sakit rujukan.
Lebih luas lagi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa selesai dalam hitungan pekan. Dibutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, partai politik, organisasi masyarakat, dan sektor swasta agar warga yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman dapat kembali bangkit. Pelayanan kesehatan bagi 107 warga di Golo Watu hanyalah satu titik kecil dari upaya besar yang masih harus terus dirawat bersama hingga NTT pulih sepenuhnya.
