ASATUNEWS.CO, JAKARTA – Peta persaingan politik nasional menuju Pemilu 2029 mulai menunjukkan dinamika menarik. Presiden Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas dalam survei elektabilitas terbaru Indonesia Political Opinion (IPO), tetapi jaraknya dengan sejumlah tokoh lain belum terlalu lebar.
Dalam simulasi terbuka atau top of mind, responden diberikan kebebasan menyebut nama tokoh yang dianggap paling layak menjadi presiden tanpa diberikan daftar nama terlebih dahulu.
Hasilnya, Prabowo memperoleh elektabilitas 23,4 persen. Posisi tersebut menempatkannya di urutan pertama, tetapi belum meninggalkan pesaing secara signifikan.
Di posisi kedua terdapat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dengan elektabilitas 21,7 persen. Sementara itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada di posisi berikutnya dengan 11,5 persen.
Jarak Prabowo dan KDM Hanya 1,7 Persen
Perolehan Prabowo dan Dedi Mulyadi menjadi salah satu poin paling menarik dari survei tersebut.
Dengan angka 23,4 persen berbanding 21,7 persen, selisih keduanya hanya 1,7 poin persentase.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan posisi Prabowo sebagai kepala negara memang memberikan pengaruh terhadap tingkat keteringatan publik. Namun, kemunculan Dedi Mulyadi menunjukkan adanya figur lain yang mulai memperoleh perhatian besar dari masyarakat.
“Memang tidak signifikan meninggalkan nama-nama yang lain,” kata Dedi Kurnia Syah mengenai posisi Prabowo dalam simulasi terbuka tersebut.
Persaingan Menuju 2029 Masih Terbuka
Hasil survei ini belum dapat dianggap sebagai gambaran final mengenai Pilpres 2029. Pemilu masih berada beberapa tahun lagi dan dinamika politik nasional masih sangat mungkin berubah.
Popularitas seorang tokoh dapat berubah mengikuti kinerja pemerintahan, kondisi ekonomi, kebijakan publik, dinamika partai politik, hingga perkembangan isu nasional.
Survei lain juga menunjukkan bahwa peta elektoral masih sangat dinamis. Sebelumnya, survei Poltracking yang menggunakan data lapangan 2–8 Maret 2026 menempatkan Prabowo di angka 32,9 persen, Dedi Mulyadi 13,5 persen, dan Anies Baswedan 9,2 persen dalam simulasi yang berbeda.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan metode, periode pengumpulan data, dan bentuk pertanyaan sebelum membandingkan hasil survei secara langsung.
KDM Jadi Figur yang Patut Diperhatikan
Kenaikan posisi Dedi Mulyadi menjadi salah satu fenomena yang menarik dalam peta politik nasional.
Sebagai Gubernur Jawa Barat, KDM memiliki basis elektoral besar dari provinsi dengan jumlah pemilih yang sangat signifikan. Perhatian terhadap aktivitas dan gaya komunikasinya di ruang publik juga membuat namanya semakin sering muncul dalam pembicaraan politik nasional.
Namun, elektabilitas dalam survei tidak otomatis berarti seorang tokoh akan maju sebagai calon presiden.
Masih terdapat sejumlah tahapan politik, termasuk dukungan partai politik dan konfigurasi koalisi, yang akan menentukan siapa saja yang benar-benar masuk dalam pertarungan Pilpres 2029.
Prabowo Masih Memegang Keunggulan
Meski persaingan semakin ketat, survei IPO tetap menempatkan Prabowo sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi terbuka.
Dengan angka 23,4 persen, Prabowo masih unggul atas KDM dan Anies.
Namun, selisih yang relatif tipis dengan KDM menunjukkan bahwa peta politik menuju 2029 masih sangat cair.
Perkembangan kinerja pemerintahan dalam dua tahun ke depan, popularitas para kepala daerah, serta strategi partai politik diperkirakan akan menjadi faktor penting yang menentukan perubahan peta elektoral berikutnya.
