Rabu, 07 Februari 2018 14:22 WIB

Penayangan Film Edukasi 3D Bebankan Ortu Murid, Hasil Pungutan Buat Siapa?

Riau - Toni
Penayangan Film Edukasi 3D Bebankan Ortu Murid, Hasil Pungutan Buat Siapa?

TAMBANG (ASATUNEWS)- Memang  pungutan yang dilakukan oleh Manajemen Film Edukasi 3D hanya Rp20 ribu. Namun jika dikalikan sekian ribu murid di Kecamatan Tambang, pengasilan film edukasi itu bisa menghasilkan kocek miliaran rupiah.

Masalahnya, uang hasil pemutaran film itu dimasukan ke mana? Mengingat film tersebut mencari dan meraup keuntungan di Sekolah Dasar (SD) yang mana saat ini pemerintah sedang gencar membasmi pungutan liar dalam jenis apapun.

Menurut keterangan beberapa kepala sekolah di kecamatan Tambang,  pemutaran  film ini bekerja sama dengan pihak menajemen film dengan memberikan undangan kepada  orang tua (ortu) dengan biaya Rp20 ribu.

Dalam undangan itu sambung para kepala sekolah kepada asatunew.co Rabu pagi tadi, memang tidak diwajibkan bagi murid yang tidak punya uang untuk menonton film ini.

"Tidak ada paksaan. Tetapi yang ingin menonton aja. Pungutan itu sudah kebijakan manajemen penyelenggara. Kami sekolah hanya terima," ucap beberapa kepsek yang enggan namanya di publis.

Telusur demi telusur, rupanya pihak manajemen bagi hasil dengan pihak sekolah. Pembagian hasil 80 persen untuk manajemen film dan 20 persen diberikan kepada pihak sekolah.


Saat dikonfirmasi kepada pihak penyelenggara Asri selaku operator saat ditemui dalam pemutaran film edukasi 3D di SDN 031 Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, ia tidak bisa menjelaskan hasil dari pungutan mau salurkan kemana.

Bahkan lebih parah izin pengadaan pemutaran film itu juga tidak ada. Sehingga orang tua murid menilai film itu diputar hanya akal-akalan pihak manajemen film dan kepala sekolah untuk meraup keuntungan pribadi.

Terkait dengan masalah ini Tony Chaniago selaku wali murid dan juga pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  Barisan Anti Korupsi (Bara Api) Provinsi Riau akan melakukan penelusuran tentang film edukasi ini. Hal ini mengingat pungutan Rp20 ribu dengan keuntungan miliaran rupiah.

"Saya sudah konfirmasi tentang ijin penayangan pihak manajemen tidak bisa melihatkan. Bahkan ia terlihat pucat saat saya konfirmasi hasil pemutaran film ini dimasukan ke kas negara atau sifatnya pribadi. Tapi mereka juga tidak bisa menjawab," katanya.

Bahkan kata Tony,  dengan entengnya pihak manajemen film mengatakan bahwa pemutaran film sudah mendapatkan ijin dari dinas pendidikan Kabupaten Kampar " Sempat saya tanya juga ijinnya tertulis atau hanya dengan lisan. Namun pihak manajen film lagi tidak bisa menjawab. Bahkan dialihkan ke direktur perusahan film,"  ujar Tony.

Untuk mamastikan ini legal atau tidaknya, maka Tony selaku kontrol sosial meminta pihak perusahan film untuk melihatkan legalitas. Namun hingga berita di realis belum juga ada dihubungi.

Hingga saat ini film itu informasinya akan merambah seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Kampar. Kalau emang sukses film ini pengasilan dari film ini ditaksir bisa melibas kocek orang tua murid miliaran rupiah. Masya Allah.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :