Jumat, 05 Januari 2018 18:23 WIB

Tewasnya Jumiati Dimakan Harimau, Ini Versi BBKSDA

Berita -
Tewasnya Jumiati Dimakan Harimau, Ini Versi BBKSDA

Tim BBKSDA saat melacak keberadaan harimau yang telah memangsa Jumiati.

PEKANBARU (asatunews)- Kasus tewasnya Jumiati masih menyisakan dan tanda tanya bagi kita semua. Sebenarnya, seperti apa kronologis yang menewaskan wanita tersebut dengan kondisi sebahagian daging kakinya rusak karena dimakan binatang buas harimau.

Menurut pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), harimau yang memangsa karyawati PT Tabung Haji Indo Plantation didata sudah mulai terlihat sejak akhir Desember 2016.  Hewan buas tersebut mulai terlihat masuk perkampungan pada per tengahan Mei 2017 lalu di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Untuk proses evakuasi sudah lama direncanakan, namun tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau selalu kehilangan jejak karena daya jelajah hewan ini yang bisa mencapai 300 kilometer. 

Pada pertengahan Desember 2017, sudah ada perintah evakuasi atau trans lokasi dari Dirjen KSDA dan Energi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

''Tanggal 4 Januari 2018 ini, sebenarnya sudah kita agendakan rapat bersama perusahaan. Ternyata sudah kejadian dulu. Ada tiga karyawati perusahaan dikejar, salah satunya meninggal,'' kata Plt Kepala BBKSDA Riau Haryono di Pekanbaru, Jumat (5/1) pagi.

Saat ini, tim sudah dibentuk lebih cepat diberangkatkan setelah kejadian penyerangan pada 3 Januari 2018. Di lokasi, tim KSDA dibantu kepolisian tengah mempelajari pola gerak hewan ini untuk kemudian ditangkap kalau terlihat.

Sambungnya, proses penangkapan sendiri, harus dilakukan hati-hati karena yang dihadapi adalah harimau. Di samping itu, perlu dila kukan penangkapan sesuai prosedur yang diatur internasional tentang hewan dilindungi.

Untuk konflik antara Harimau dan manusia, yang mengakibatkan korban jiwa baru pertama kali terjadi di lokasi tersebut. Walau keberadaan hewan belang itu sering muncul. 

Selain itu, pihaknya juga sering mendapat laporan masyarakat yang melihat gerak-geriknya ketika beraktivitas.

''Laporan yang masuk, hewan tersebut  ditemukan warga ketika mencuci, dan harimaunya ada di depannya,'' terang Haryono, didam pingi Kabid Wilayah II KSDA Riau, Hutomo.

Terpisah, menurut Hutomo, ada beberapa faktor harimau nekat menyerang manusia, khususnya pada kejadian yang dialami Jumiati dan2 rekannya. Salah satunya terkejutnya harimau karena berpapa san dengan manusia.

Hal ini membuat harimau lebih reaktif. Apalagi manusia yang dijumpainya juga kaget dan membuat tindakan reaktif sehingga menyerangnya.

''Analisa kita, adanya serangan harimau tersebut. Karena sama-sama terkejut. Dan harimau tadi lebih reaktif. Sementara itu 3 karyawatinya juga terkejut melihat harimau,'' terang Hutomo.                         

Lanjut Hutomo, faktor lainnya adalah adanya aktivitas panen di areal perkebunan, baik itu Hutan Tanaman Industri (HTI) dan sawit. Sehingga membuat harimau keluar dari sarangnya, di mana hewan belang ini disebut biasanya mendiami kawasan konservasi Kerumutan.

Kawasan ini memang berbatasan dengan HTI, di mana juga bersebe lahan dengan perkebunan sawit. Biasanya masa panen ini membuat hewan dimangsa seperti monyet dan babi berkeliaran.

Atas kejadian itu, BBKSDA Riau mengimbau masyarakat lebih berhati-hati ketika beraktivitas di kebun sawit, khususnya daerah yang pernah dilintasi harimau. Perusahaan juga diminta mengkordinir karyawan supaya tidak sendirian beraktivitas dan tak reaktif ketika melihat harimau.

Sementera pihak PT Tabung Haji Indo Plantation, Dani Murtopo mengaku sudah lama memasang plang imbauan serta surat edaran ke lokasi-lokasi yang pernah dilintasi harimau.

Dia menyebut, perusahaannya sudah 20 tahun beroperasi di lokasi tersebut. Dan kejadian penyerangan ini disebutnya baru pertama kali terjadi. Dia juga menyebut lahan operasi perusahaannya tidak termasuk ke kawasan konservasi.

''Sejak tahun 1998, baru ini kejadian harimau menyerang. Harimau ini juga baru kelihatan pada Desember 2016, logika kami harimau muncul karena adanya panen,'' sebut Dani.

 

Terkait

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :