Kamis, 04 Januari 2018 08:42 WIB

Ngaku Dukun, Ternyata Tukang Tipu

Hukrim -
Ngaku Dukun, Ternyata Tukang Tipu

Dukun palsu yang nyaris dihajar massa.

KUBA (asatunews)- Seorang pria bernama Rudi (45) warga Desa Tanah Merah Pasar II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Binjai, Langkat, Provinsi Sumatera Utara nyaris saja dihakimi massa.

Aksi ini dilakukan pelaku di daerah Kepenghuluan Sungai Majo Pusako, Kecamatan Kubu Babussalam (Kuba), Rohil, kemarin. Waktu itu pelaku mengaku dukun dan sebagai penjual barang antik, untuk ketahanan tubuh atau susuk. 

Terkuaknya aksi pelaku ini  karena kecurigaan Datuk Penghulu Sungai Majo Pusako, Syafrizal B, yang mana pada saat itu warganya bernama, Suparman meminjam uang kepada Penghulu untuk menebus bayaran mahar  barang antik yang ditawarkan pelaku seharga Rp 3 juta.

Barang antik palsu itu diketahui bernama batu delima, pelaku mengatakan kepada korban, batu delima itu mampu memberikan kekebalan tubuh bagi korban, dengan cara batu delima yang konon katanya memiliki kodam tersebut dengan cara ditelan (dimakan).

Berangkat dari pengakuan korban, kemudian kecurigaan Datuk Penghulu semakin mendalam. Ditambah sekarang banyak modus penipuan yang dilakukan pelaku kejahatan demi mencari mangsa.

Kemudian Penghulu meminta warganya (korban) untuk memanggil sang dukun, dengan alasan ingin mencoba jimat kekebalan tubuh dari batu delima tersebut.

Lalu pelaku datang ke kediaman Penghulu tanpa merasa curiga, kemudian penghulu terus menanyai pelaku, semangkin lama jawaban pelaku sedikit ngaur, dan tidak memancarkan dari cara bicaranya seperti dukun atau orang pintar.

Penghulu melihat batu delima tersebut, kemudian membakar batu itu, ternyata saat dibakar batu tersebut mencair, saat batu itu hancur, penghulu mengambil kesimpulan bahwa batu delima tersebut bukan asli, akan tetapi bahan baku batu delima tersebut terbuat dari pelastik, yang diperdayaguna pelaku untuk menipu korban.

Saat diketahui bahwa pelaku bukan dukun benaran, korban dan warga yang secara langsung menyaksikan, sempat disuluti emosi, susana sempat memanas, namun dengan cepat penghulu meredam amukan warga, sehingga dilakukan perdamaikan secara keluarga antara korban, dan pelaku.   

Setelah ditanyai pelaku mengakui, bahwa batu delima dan pompon tersebut barang antik koleksian palsu, hanya akal-akalan pelaku ingin melancarkan aksinya melakukan penipuan kepada warga Sungai Majo Pusako.

Menurut Penghulu, korban bernama Suparman dan Dodi yang tak lain warganya, sudah sempat mengeluarkan untuk membayar batu delima tersebut. ''Korban Suparman sudah membayar Rp700 ribu, begitu juga korban lainya,  Dodi juga sudah menebus mahar (bayaran) batu delima itu dengan senilai Rp300 ribu, semua benda itu sudah dimakan mereka," ujarnya.

Beruntung lanjutnya, saat dilakukan perdamaian di kantor Penghulu, emosi warga yang sudah memuncak dapat terbendung, sehingga proses perdamain, dengan cara pelaku mengembalikan uang korban, dapat berjalan dengan kondusif.

Terkait

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :