Rabu, 03 Januari 2018 15:31 WIB

Soal Fenomena Supermoon, Warga Pulau Bengkalis jangan Kuatir

Berita -
Soal Fenomena Supermoon, Warga Pulau Bengkalis jangan Kuatir

Jaafar

BENGKALIS (asatunews) - Sejak dua pekan terakhir curah hujan di Bengkalis cukup tinggi, dan potensi angin laut begitu terasa kencangnya. Terutama sepanjang bulan November hingga Desember 2017. 

Atas kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis melakukan pemantauan disejumlah desa di Pulau Bengkalis.

Kepala BPBD Kabupaten Bengkalis, H Jaafar Arief, Rabu (3/1/2018) mengatakan, curah hujan tinggi akhir-akhir ini cukup mengkuatirkan, namun sampai hari ini kondisi wilayah pesisir Riau terutama pulau Bengkalis masih aman dan terus dipantau.
     Sesuai laporan dari Stasiun Meterologi Belawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga turut diumumkan jika kondisi hari ini patut diwaspadai Pasang Air Laut Maksimum dari tanggal 1-4 Januari 2018. 

Salah satu daerah di pesisir Pulau Bengkalis, Sungai Pakning salah satu yang rawan terjadinya Rob (genangan air laut di daratan), dan hampir sama kondisinya di Pulau Bengkalis.

BMKG melalui surat resminya tanggal 31 Desember 2017 memperkirakan munculnya fenomena Supermon di awal Tahun 2018 yang dampaknya akan terjadi peningkatan tinggi muka air yang dapat mengakibatkan Rob. Dengan adanya fenomena tersebut menyarakat disekitar pesisir diimbau tetap waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak Pasang Air Laut Maksimum.

''Sejumlah desa seperti Sungai Alam, kemudian Kelapapati masih terkendala, begitu juga sejumlah desa di Kecamatan Bantan. Memang dua hari lalu, terjadi genangan air yang tinggi dipekaran rumah warga, ditambah curah hujan yang cukup tinggi, dari hasil pantauan kita hari ini sudah mulai berangsur surut,'' katanya.

Sejauh ini BPBD juga melakukan koordinasi bersama petugas penanggulangan bencana di setiap kecamatan. Petugas tetap standby memantau setiap perkembangan kondisi di daerah masing-masing.

''Cuaca mulai membaik, namun tetap harus kita antisipasi sehingga bisa tahu dimana titik-titik rawannya, walau kita tidak tahu dan tidak bisa memprediksi secara tepat kondisi alam, antisipasi itu perlu,'' kata Jaafar.

Terkait

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :