Minggu, 31 Desember 2017 11:04 WIB

Dekat dengan JK, Agus Dianggap Cocok Gantikan Setnov

Politik -
Dekat dengan JK, Agus Dianggap Cocok Gantikan Setnov

JAKARTA (asatunews) - Salah satu calon Ketua DPR menggantikan Setya Novanto yang belakangan ini ramai disebut-sebut adalah Agus Gumiwang.

Menurut Direktur Survei dan Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara, kedekatan Sekretaris Fraksi Partai Golkar di DPR itu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akan membuat situasi politik stabil di tahun politik 2018 dan 2019.

Kendati diakui ada juga nama lain pesaing kuat Agus, yaitu Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo dari Fraksi Golkar. Dia menyebut, ada tiga indikator pemilihan Ketua DPR supaya situasi politik tidak gaduh dan parlemen sinkron dengan pemerintah pada 2018 serta 2019.

"Jadi, pertama integritas, kompetensi dan akseptabilitas.‎ Tiga itu syarat yang saya usulkan untuk calon Ketua DPR," ujarnya saat dihubungi di Jakarta.

Indikator pertama itu, terangnya, sesuai dengan tagline Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, yaitu bersih dan berintegritas sehingga kadernya yang dicalonkan sebagai pengganti Novanto harus bersih dan integritas.

"Jadi, calonnya itu harus berintegritas dan bersih, integritas bisa dilihat dari PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela) dalam AD/ART Golkar, tidak punya masalah hukum dan anti Pansus KPK," ucapnya.

Dia menerangkan, indikator kedua kompetensi itu dikehendaki oleh Ketua Umum Airlangga Hartarto. Pengalaman itu, kata dia, calon Ketua DPR pernah menjabat ketua komisi di DPR atau alat kelengkapan dewan (AKD).

"Ketiga, saya rasa tidak menimbulkan resistensi di DPR, fraksi-fraksi di DPR dan juga internal Golkar bahkan publik. Kami tahu Ketua Umum Golkar merangkap, ya, Setya novanto, poin ketiga ini disebut akseptabilitas," paparnya.

Komunikasi Agus Gumiwang, terangnya, bagus terhadap senior Golkar termasuk JK (Jusuf Kalla). Karena itu, indikator akseptabilitas itu tidak menimbulkan resistensi baik internal Golkar, fraksi lain di DPR, dan masyarakat.

"Semua senior Golkar prihatin kasus Novanto yang menurunkan elektabilitas, makanya perlu struktur yang diakomodir untuk memenangkan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019," ungkapnya.

Terkait

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :