Jumat, 08 Desember 2017 12:50 WIB

Amarah Palestina Terhadap Keputusan Trump

Internasional -
Amarah Palestina Terhadap Keputusan Trump

Amarag demonstran membakar bendera Amerika Serikat

YERUSALEM (asatunews) - Demonstran Palestina membakar bendera Amerika Serikat di Ramallah dalam unjuk rasa menentang keputusan Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Warga Palestina terus mengirimkan pesan mereka kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sejak dia memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, pada Rabu (06/12).

Dalam rangkaian protes di Tepi Barat dan Jalur Gaza, mereka membakar bendera AS dan meneriakkan yel-yel mengenai klaim Palestina terhadap Yerusalem.

"Dia membuat keputusan ini secara sepihak, mengambil pendapat orang Israel dan mengabaikan fakta-fakta mengenai Palestina," kata Carla Birkat, salah seorang warga Palestina dalam aksi protes di Ramallah, Tepi Barat, Kamis (07/12).

Di sekitar Ramallah, toko dan kantor ditutup dalam aksi mogok. Sekolah dan universitas juga menghentikan aktivitasnya. Kemuraman dan amarah jelas terasa.

Melalui perbincangan dengan banyak orang di Ramallah, saya memperoleh tanggapan bahwa Washington telah merusak peluang Palestina meraih kemerdekaan sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

"Kami mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina. Keputusan itu menyudahi solusi dua negara," ujar Abed Jayussi, warga Ramallah lainnya.

Warga Palestina begitu marah terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Mereka menuangkan kemarahan itu dalam grafiti di Bethlehem, Tepi Barat.

Sebagian Kota Ramallah direbut Israel dari Yordania pada Perang 1967 dan belakangan mendudukinya dalam langkah yang tidak mendapat pengakuan internasional.

Belakangan, beberapa negara menyerukan agar Palestina dan Israel menjadi dua negara yang berdampingan secara damaiatau disebut solusi dua negara.

Solusi itu mencakup pembentukan negara merdeka Palestina di dalam garis perbatasan sebelum Perang 1967 yang terdiri dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Pada hari yang sama ketika dia mengakui Yerusalem merupakan ibu kota Israel, Trump menyebutkan dia bakal mendukung formula perdamaiann tersebut jika Israel dan Palestina menyepakatinya. Dia menekankan bahwa dia tidak merinci secara spesifik mengenai perbatasan Yerusalem.

Akan tetapi, Abed Jayussi menepis bahwa Trump bisa menjadi penengah perdamaian.

"Saat ini kami tidak ingin ada perundingan damai apapun dengan Israel dan kami meminta Presiden Palestina memutus semua hubungan dengan Trump," cetusnya.

"Kami ingin komunitas internasional berdiri di sebelah kami."

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :