Kamis 07 Desember 2017, 15:09 WIB

Model Bisnis Baru Untuk Industri Media Cetak

Nasional -
Model Bisnis Baru Untuk Industri Media Cetak

Foto : Istimewa/net

JAKARTA (asatunews)- Sejumlah perusahaan penerbit surat kabar beramai-ramai mengembangkan platform digital sejak era internet masuk ke Indonesia. Namun, Executive Director Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina memandang, strategi yang dilakukan demi bertahan di industri media tersebut kurang tepat.

Menurut Hellen, media cetak harusnya tak berpuas diri setelah berhasil mengembangkan versi digital mereka, baik portal berita maupun e-paper. Sebab, ia menilai, sudah saatnya industri media cetak memikirkan model bisnis baru.

"Sudah waktunya berubah bisnis model karena kita tahu harga kertas dan tinta akan terus naik," kata Hellen, saat memaparkan hasil survei Nielsen Consumer & Media View, di Jakarta, Rabu (6/12).

Di sisi lain, sambung dia, dari tahun ke tahun jumlah pembaca media cetak terus menurun karena terjadi perpindahan ke versi digital. Artinya, media cetak dituntut untuk lebih kreatif dalam menghasilkan uang dari industri tersebut. "Apakah cukup memonetasi digital hanya dari spot iklan saja seperti di versi cetak? Ini yang harus dipikirkan," kata Hellen.

Berdasarkan survei terbaru yang dirilis Nielsen pada Rabu (6/12), jumlah pembaca media cetak di Indonesia saat ini ada 4,5 juta orang. Lebih sedikit dibanding jumlah pembaca media digital yang mencapai 6 juta orang. Sementara, hanya ada 1,1 juta orang yang membaca berita dari kedua platform yang berbeda tersebut.

Jika dilihat lebih spesifik, Hellen memaparkan, jumlah pembaca media cetak saat ini memang jauh berkurang dibanding 2012 lalu yang sebanyak 9,5 juta orang. Namun, apabila jumlah pembaca media cetak digabung dengan pembaca media digital, angkanya akan sama seperti data lima tahun lalu, yakni 9,5 juta orang. Artinya, Hellen mengatakan, sebenarnya tidak ada penurunan jumlah pembaca jika sekat antara cetak dan digital dihilangkan.

Masih berdasarkan survei Nielsen, sebanyak 56 persen responden mengaku masih membaca koran karena menganggap konten yang disajikan lebih terpercaya. Hellen memandang, hal ini lah yang seharusnya ditonjolkan koran untuk menarik lebih banyak pembaca. "Industri bisa sama-sama bikin kampanye koran anti hoax. Kasih orang alasan kenapa kita harus baca koran," ujarnya.

Survei Nielsen itu sendiri dilakukan secara tatap muka dengan 17.000 responden di 11 kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin. Riset dilakukan sejak kuartal keempat 2016 hingga kuartal ketiga 2017.
 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :