Selasa 21 November 2017, 22:31 WIB

Terkait Tumpahan CPO ke Sungai Karang Pagarantapah

BLH: Itu Bukan CPO, Tapi LImbah!

Lingkungan - Yahya Siregar
BLH: Itu Bukan CPO, Tapi LImbah!

Limbah milik PTPN V yang mengalir di Sungai Karang Pagarantapah Rokan Hulu. foto yahya

Pagarantapah Darussalam (asatunews) - Tadi sore Kabid Penaatan dan Penataan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Asdinoper, datang ke Sungai Karang di kawasan Desa Kembang Indah Kecamatan Pagarantapah Darussalam Rohul. 

Dia ditemani 6 orang pejabat dan staf. Habis mengambil sampel air Sungai Karang yang ditaruh di 3 tabung, mereka kemudian mendatangi ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Intan milik PT Perkebunan Nusantara V.  

Ditemani Asisten Kepala (Askep) PKS, Tengku Hajar, mereka kemudian meninjau 9 kolam yang ada di lingkungan PKS itu. 

Ukuran kolam itu macam-macam. Ada yang 60x80 meter dan ada pula yang 100x50 meter. "Semua kolam kami periksa. Rupanya ada kebocoran di kolam 8. Ukuran yang bocor sekitar 30 sentimeter. Untung saja besar lobangnya segitu. Sempat jebol, bisa ribuan kubik limbah yang keluar," kata Asdinoper seperti dilansir katakabar.com malam ini. 

Jadi kata Noper, yang mengalir di Sungai Karang sejak tanggal 16 November lalu itu bukan Crude Palm Oil (CPO), tapi limbah dari kolam 8 tadi. 

"Pihak PKS enggak tahu kalau ada kebocoran. Askepnya bilang bisa jadi itu ulah masyarakat yang mencoba mengambil limbah," ujar Noper. 

Kalau itu alasannya kata Noper, yang ada justru malah berbahaya. Sebab sebenarnya masyarakat tidak boleh mendekati kolam limbah yang tak berpagar itu. 

"Kedalaman kolam 1-5 itu mencapai 5 meter. Sempat ada warga yang nyemplung, malah jadi masalah baru. Itulah makanya tadi kami minta supaya perusahaan segera memagari kolam itu," katanya. 

Noper merinci, dari 9 kolam tadi, hanya kolam 1-5 yang difungsikan oleh PKS. Sebab sampai sekarang PKS tidak punya izin membuang limbah. Yang ada hanya izin Land Aplikasi. Limbah di kolam 1-5 itu dipakai perusahaan untuk pupuk.  

Nah, kolam 6-9 tidak berfungsi. Makanya di tas kolam itu sudah ditumbuhi kangkung. "Orang pun bisa melintas di atas kolam itu lantaran bagian atas kolam sudah mengeras," katanya.

Noper mengaku heran dari mana limbah yang meluber ke Sungai Karang tadi. Apakah ada pipa di bawah kolam yang tak berfungsi itu, Noper belum tahu. 

"Kami beri waktu 3-7 hari kepada perusahaan untuk menormalisasi sungai dan memperbaiki semua kolam yang ada. Kolam yang bocor segera ditutup dan tanggul kolam musti ditinggikan. Lalu kolam musti dipagari. Tiga hari lagi kami akan ke sana," katanya.   
 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :